Apakah Tayamum Menghilangkan Hadats Atau Sekedar Membolehkan Shalat

Fri 11 September 2015 20:00 | 0
Isnaini Mangasiroh

 

Al-Marghinani (w. 593 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hidayah Syarah Bidayatu Al-Mubtadi sebagai berikut :

وكذا الحيض والنفاس لما روي أن قوما جاءوا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وقالوا إنا قوم نسكن هذه الرمال ولا نجد الماء شهرا أو شهرين وفينا الجنب والحائض والنفساء فقال عليه الصلاة والسلام " عليكم بأرضكم ".

Demikianpula haidh dan nifas, sebagaimana diriwayatkan bahwa ada suatu kaum mendatangi Rasulullah SAW seraya berkata, “ Kami adalah kaum yang tinggal di gurun dan kami tidak mendapati air selama sebulan atau dua bulan, sedangkan diantara kami ada orang yang junub, haidh dan perempuan yang nifas.” Nabi SAW bersabda,” Gunakanlah pasir.”.

Al-Marghinani, Al-Hidayah Syarah Bidayatu Al-Mubtadi, jilid 1 hal. 28 | Anis

Dari sini dapat dipahami maksud perkataan penulis "haidh dan nifas" dapat dimaknai bahwa tayammum dapat menggantikan thaharah air dari hadats haidh dan nifas. Al-Marghinani (w. 593 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hidayah Syarah Bidayatu Al-Mubtadi sebagai berikut :

ولا بد من الإستيعاب في ظاهر الرواية لقيامه مقام الوضوء ولهذا قالوا: يخلل الأصابع وينزع الخاتم ليتم المسح " والحديث والجنابة فيه سواء " وكذا الحيض والنفاس لما روي أن قوما جاءوا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وقالوا إنا قوم نسكن هذه الرمال ولا نجد الماء شهرا أو شهرين وفينا الجنب والحائض والنفساء فقال عليه الصلاة والسلام " عليكم بأرضكم

untuk menggantikan wudhu, maka dari itu mereka berpendapat : menyela jari jari dan melepas cincin untuk menyempurnakan usapan, orang yang berhadats sama saja dengan orang yang junub, dan begitu pula haidh dan nifas, diriwayatkan bahwa suatu kaum datang kepada rosululloh SAW dan berkata kita adalah suatu kaum yang tinggal digurun dan tidak mendapatkan air sebulan hingga dua bulan dan diantara kita ada yang berjunub, haidh dan nifas, maka rosululloh SAW bersabda : maka gunakanlah tanah.

Al-Marghinani, Al-Hidayah Syarah Bidayatu Al-Mubtadi, jilid 1 hal. 27 | Ahda

Al-Qadhi Zaadah (w. 1087 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Majma’ Al-Anhur fii Syarhi Multaqa Al-Abhur sebagai berikut :

الاستواء في حكم التيمم فإنه كما يجوز عن الحدث يجوز عن الجنابة والحيض والنفاس

ketetapan hukum tayammum seperti dibolehkannya tayammum dari hadats dibolehkan juga tayammum dari janabah, haidh, dan nifas.

Al-Qadhi Zaadah, Majma’ Al-Anhur fii Syarhi Multaqa Al-Abhur , jilid 1 hal. 40 | Ahda

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Istidzkar sebagai berikut :

أن الجنب إذا وجد الماء لزمه استعماله وأن تيممه ليس بطهارة كاملة وإنما هو استباحة للصلاة

Seorang yang junub jika menemukan air ia wajib menggunakannya dalam rangka bertaharah,sedangkan tayammumnya dalam junub bukan untuk menyucikan dengan sempurna akan tetapi hanya untuk sekedar membolehkan shalat saja .

Ibnu Abdil Barr, Al-Istidzkar, jilid 1 hal. 304 | Sofyana

Al-Qarafi (w. 684 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Adz-Dzakhirah sebagai berikut :

وينوي استباحة الصلاة سواء كان جنبا أو محدثا الحدث الأصغر

Meniatkan (tayammum) untuk sekedar membolehkan shalat bagi yang junub ataupun yang berhadats kecil.

Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 1 hal. 3511 | Sofyana

Ibnu Juzai Al-Kalbi (w. 741 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Qawanin Al-Fiqhiyah sebagai berikut :

التيمم ينوب عن الوضوء وعن الغسل من الجنابة والحيض والنفاس إلا أنه لا يجوز لزوج الحائض أن يطأها حتى تغتسل بالماء على المشهور

Tayammum menggantikan wudhu juga mandi besar untuk junub, haidh, dan nifas. Tetapi tidak boleh bagi seorang suami menggauli istrinya sehabis haidh hingga ia mandi dengan air menurut pendapat yang masyhur..

Ibnu Juzai Al-Kalbi, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, jilid 0 hal. 30 | Anis

Al-Mawardi (w. 450 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hawi Al-Kabir sebagai berikut :

أن ينوِي رفع الحدث فتيممه باطِل

yang berniat menghilangkan hadats, maka tayammumnya batal...

Al-Mawardi, Al-Hawi Al-Kabir, jilid 1 hal. 244 | Irma

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

أنه لا يرفع الحدث وبه قطع جمهور الأصحاب

"Sesungguhnya tayammum tidak menghilangkan hadats, dan pendapat ini adalah yang ditetapkan oleh jumhurul ashhab”..

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 2 hal. 220 | Isnain

Al-Qalyubi wa Umairah (w. 1069 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiyata Al-Qalyubi wa Umairah sebagai berikut :

(ونيّة اسْتِباحة الصلاة) أو نحوِها كالطواف ومس المصحف (لا رفع الحدث) لأن التيمم لا يرفعه)

niat tayammum dibolehkan untuk sholat atau ibadah semisalnya seperti thowaf dan menyentuh mushaf tapi tidak untuk menghilangkan hadats, karena tayammum pada hakikatnya tidak menghilangkan hadats.

Al-Qalyubi wa Umairah, Hasyiyata Al-Qalyubi wa Umairah, jilid 1 hal. 101 | Irma

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

فإن نوى رفع الحدث لم يجزئه. لأن التيمم لا يرفع الحدث.

“Maka jika dia berniat (tayammum) untuk menghilangkan hadats tidaklah sah tayammumnya, karena tayammum bukan untuk menghilangkan hadats”.

Ibnu Qudamah, Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad, jilid 1 hal. 121 | Isnain

Al-Buhuti (w. 1051 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Kasysyaf Al-Qinna' sebagai berikut :

لا يرفع الحدث... ولو رفع الحدث لم يحتج إلى الماء إذا وجده (ولا يصح) التيمم

(Tayamum itu) tidak menghilangkan hadats.. Kalaulah menghilangkan hadats, maka tidak sah tayamum tersebut jika mendapati air.

Al-Buhuti, Kasysyaf Al-Qinna', jilid 1 hal. 161 | Kartika

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

لكنه استباحة للصلاة

Akan tetapi tayamum itu untuk diperbolehkannya shalat.

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 1 hal. 358 | Kartika

Baca Lainnya :

Tayammum, Sampai Siku atau Pergelangan Tangan?
Imamuddin Mukhtar | 3 April 2015, 10:09 | published
Pengertian Istilah Shaid Dalam Ayat Tayammum
Kartika Ande | 11 September 2015, 19:57 | published
Mengusap Tangan dalam Tayammum Sampai Siku atau Pergelangan?
Muhammad Aqil Haidar | 17 April 2015, 10:10 | published
Apakah Tayamum Menghilangkan Hadats Atau Sekedar Membolehkan Shalat
Isnaini Mangasiroh | 11 September 2015, 20:00 | published
Waktu Diperbolehkannya Tayammum
Khanif Fatoni Sofyana | 11 September 2015, 20:01 | published
Apakah Tayammum Hanya Untuk Satu Kali Shalat?
Anisah Nurul Sholihah | 11 September 2015, 20:02 | published
Bolehkah Tayammum Shalat Sunnah Dipakai lagi Untuk Shalat Wajib
Mega Cahyati | 11 September 2015, 20:03 | published
Tayammum itu Rukhsah Atau Azimah?
Rahmi Fitriani | 11 September 2015, 20:04 | published
Apakah Tartib Dalam Tayammum Itu Termasuk Rukun?
Kholisnawati | 11 September 2015, 20:05 | published
Apakah Muwalat Termasuk Rukun Dalam Tayammum?
Mardliyatun Nimah | 11 September 2015, 20:07 | published
Batasan Mengusap Tangan Dalam Tayammum
Irma Suri Handayani | 11 September 2015, 20:07 | published
Tayammum Itu Satu Tepukan Atau Dua kali?
Ahda Sabila | 11 September 2015, 20:08 | published
Hukum menunda shalat untuk menunggu adanya air
Neng Ani | 18 September 2015, 17:17 | published
Seberapa jauh radius jarak yang harus ditempuh dalam mencari air ?
Taslima Husin | 18 September 2015, 17:19 | published