Wanita Menjadi Imam bagi Jamaah Wanita, Bolehkah?

Fri 11 September 2015 14:38 | 0
Isnawati

Dalam masalah wanita mengimami jama’ah wanita, para ulama fiqih berbeda pendapat mengenai hukumnya. Sebagian ulama memandang hukumnya sunnah, sebagian yang lain memandang hal itu makruh, dan sebagian mereka menganggapnya tidak boleh, bahkan shalat yang diimami seorang wanita itu menurut mereka harus diulang. Berikut pendapat dari para ulama:

 

Az-Zaila'i (w. 743 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

ولا تؤم الرجال وتكره جماعتهن

Seorang wanita tidaklah menjadi imam bagi laki-laki, dan dimakruhkan pula shalat berjama’ah bagi para wanita..

Az-Zaila'i, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 1 hal. 118 | Isna

Al-'Aini (w. 855 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Binayah Syarah Al-Hidayah sebagai berikut :

(فيكره) ش: يعني إذا كان الأمر كذلك يكره فعلهن الجماعة

Maka makruh hukumnya, jika seorang wanita mengimami jama’ah wanita. Begitu juga dimakruhkannya shalat berjama’ah bagi para wanita..

Al-'Aini, Al-Binayah Syarah Al-Hidayah , jilid 2 hal. 336 | Isna

Ibnu Abdin (w. 1252 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar sebagai berikut :

ولا تؤم الرجل، وتكره جماعتهن ويقف الإمام وسطهن

Tidaklah seorang wanita mengimami laki-laki, dan makruh jika dia menjadi imam bagi jama'ah wanita, kalau saja dia menjadi imam, maka posisinya berada ditengah mereka..

Ibnu Abdin, Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar, jilid 1 hal. 504 | Isna

Ibnu Basyir Al-Mahdawi (w. 536 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya At-Tanbih ’ala Mabadi Taujih sebagai berikut :

وهل تصح إمامتها للنساء؟ قولان: المشهور عدم الصحة طرداً للحكم الكلي، وروى ابن أيمن عن مالك أنها تؤم النساء. وهذا لأنه عول على أن المنع من كون صوتها عورة، وهو مفقود هاهنا.

Apakah sah shalat jama’ah wanita yang diimami wanita? Dalam masalah ini ada dua pendapat (dalam madzhab). Pendapat yang terkenal adalah tidak sah secara umum. Dan Ibnu Aiman meriwayatkan dari Malik, bahwasanya seorang wanita itu boleh meimami jama’ah wanita, dengan alasan yang melarang seorang perempuan menjadi imam bagi jama’ah laki-laki itu, karena suaranya aurat (bagi mereka), sedangkan bagi jama’ah wanita, tidak demikian.

Ibnu Basyir Al-Mahdawi, At-Tanbih ’ala Mabadi Taujih , jilid 1 hal. 441 | Isna

Al-Qarafi (w. 684 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Adz-Dzakhirah sebagai berikut :

الشرط الثالث الذكورة قال في الكتاب لا تؤم المرأة قال صاحب الطراز المشهور حمله على العموم في الفرض والنفل للرجال والنساء. وعن مالك الإعادة أبدا

Syarat ketiga untuk menjadi imam adalah laki-laki. Di dalam kitab Al-Mudawwanah, imam malik mengatakan: Tidaklah seorang wanita menjadi imam. Shahib Ath-Tharraz mengatakan: yang masyhur (terkenal dalam madzhab), larangan ini, sifatnya umum, baik dalam shalat wajib, maupun shalat sunnah, bagi jama’ah laki-laki, mupun jama’ah wanita. Dan dari riwayat dari imam Malik menyatakan bahwa shalatnya harus diulang..

Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 2 hal. 241 | Ipung

Al-Mawardi (w. 450 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Hawi Al-Kabir sebagai berikut :

فمذهب الشافعي أنه يستحب لها أن تؤم النساء فرضا ونفلا

Bagi Madzhab Asy-Syafi’i, bahwasanya disunnahkan bagi wanita mengimami jama’ah wanita dalam shalat wajib dan shalat sunnah.

Al-Mawardi, Al-Hawi Al-Kabir, jilid 1 hal. 356 | Isna

Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Minhaj Al-Qawim sebagai berikut :

وروى ابن ماجه: "لا تؤمن المرأة رجلا" بخلاف اقتداء المرأة بالمرأة وبالخنثى وبالرجل واقتداء الخنثى أو الرجل بالرجل فيصح إذ لا محذور.

Ibnu Majah meriwayatkan : ‘Janganlah wanita mengimami laki-laki, lain halnya jika wanita berimam kepada wanita, atau kepada khuntsa atau kepada laki-laki...sah shalatnya.

Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhaj Al-Qawim , jilid 1 hal. 152 | Qathrin

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

وتصح قدوة المرأة بالمرأة وبالخنثى كما تصح قدوة الرجل وغيره بالرجل فيتلخص من ذلك تسع صور خمسةٌ صحيحةٌ، وهي قدوة رجل برجل، خنثى برجل، امرأة برجل، امرأة بخنثى، امرأة بامرأة.

Wanita yang berimam kepada wanita atau khuntsa sah shalatnya sebagaimana sahnya seorang lelaki kepada lelaki lain. Maka bisa disimpulkan ada sembilan macam bentuk jamaah, lima diantaranya boleh dikerjakan yaitu ; laki-laki berimam laki-laki, khuntsa berimam kepada laki-laki, wanita kepada laki-laki, wanita kepada khuntsa, wanita kepada wanita..

Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 1 hal. 482 | Qathrin

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

المرأة يجوز أن تؤم النساء لما تقدم، ولا يجوز أن تؤم رجلًا، ولا خنثى مشكلًا، في فرض ولا صلاة نفل.

Dibolehkan bagi wanita mengimami wanita, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya,baik dalam shalat wajib maupun shalat sunnah, tapi tidak untuk mengimami laki-laki atau khunsa (yang berkelamin ganda).

Ibnu Qudamah, Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad, jilid 1 hal. 294 | Isna

Al-Mardawi (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf sebagai berikut :

إن إمامة المرأة بالمرأة صحيحة

Boleh bagi wanita menjadi imam bagi wanita .

Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf, jilid 2 hal. 265 | Qathrin

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

فإن صلين جماعة، وأمتهن امرأة منهن فحسن؛ لأنه لم يأت نص يمنعهن من ذلك

Jika para wanita shalat berjama'ah, diimami seorang wanita, yang demikian itu hasan (baik), karena tidak ada dalil yang melarangan hal tersebut.

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 2 hal. 167 | Isna

Wallahu’alam

Baca Lainnya :

Suci dari Haid di Waktu Ashar, Wajibkah Qadha' Dzuhur?
Fatimah Khairun Nisa | 11 September 2015, 14:35 | draft
Wanita Haidh Menghadiri Shalat Id
Fatimah Khairun Nisa | 11 September 2015, 14:36 | draft
Apakah Adzan & Iqamah Disyariatkan bagi Wanita
Achadiah | 25 May 2015, 14:37 | draft
Bolehkah Wanita Adzan Ditengah Jamaah Umum
Siti Maryam | 27 May 2015, 01:00 | published
Dalam Shalat Berjamaah, Dimanakah Posisi Imam Wanita?
Miratun Nisa | 14 May 2015, 19:00 | published
Hukum Wanita Shalat Berjamaah di Masjid
Ipung Multiningsih | 15 November 2015, 06:38 | published
Wanita Menjadi Imam bagi Jamaah Wanita, Bolehkah?
Isnawati | 11 September 2015, 14:38 | published