Dalam Shalat Berjamaah, Dimanakah Posisi Imam Wanita?

Thu 14 May 2015 19:00 | 0
Miratun Nisa

Mayoritas Ulama Fiqih dari kalangan Al-Hanafiyah, Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah membolehkan seorang wanita menjadi imam asalkan makmumnya wanita juga. Berbeda dengan jumhur ulama, kalangan Al-Malikiyah tidak membolehkan wanita menjadi imam meskipun makmumnya wanita.

Namun di mana kah posisi wanita saat menjadi imam? Apakah sama dengan laki-laki? Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat, berikut penjelasannya:

 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

فِي وَسَطِ الصَّفِّ يُشْبِهُ جَمَاعَةَ النِّسَاءِ

Posisi imam wanita berada ditengah shaf sejajar dengan jama’ahnya..

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 1 hal. 43 | Nisa

Beliau juga membolehkan jika wanita yang menjadi imam itu berdiri agak kedepan. Sebagaimana beliau menuliskannya: As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

فَإِنْ صَلَّيْنَ بِالْجَمَاعَةِ قَامَتْ إمَامُهُنَّ وَسَطَهُنَّ، وَإِنْ تَقَدَّمَتْهُنَّ جَازَ

Jika para wanita shalat dengan berjamaah, maka yang menjadi imam berdiri sejajar ma’mum, namun jika ia sedikit maju ke depan juga boleh.

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 1 hal. 187 | Nisa

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

حَتَّى لَوْ أَمَّتْ النِّسَاءَ جَازَ، وَيَنْبَغِي أَنْ تَقُومَ وَسَطَهُنَّ لِمَا رُوِيَ عَنْ عَائِشَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا - أَنَّهَا أَمَّتْ نِسْوَةً فِي صَلَاةِ الْعَصْرِ وَقَامَتْ وَسَطَهُنَّ وَأَمَّتْ أُمُّ سَلَمَةَ نِسَاءً وَقَامَتْ وَسَطَهُنَّ

Diperbolehkan bagi seorang wanita untuk menjadi imam, dan posisinya adalah di tengah seperti diriwayatkan oleh Aisyah radiyallahuanha: bahwa ia mengimami para perempuan untuk shalat ashar dan ia berdiri ditengah shaf lalu mengimami para wanita dan berdiri ditengahnya. Dan Ummu Salamah juga pernah melakukan hal yang sama..

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 1 hal. 157 | Nisa

Ibnul Humam (w. 681 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Fathul Qadir sebagai berikut :

قَوْلُهُ فَإِنْ فَعَلْنَ قَامَتْ الْإِمَامُ وَسَطَهُنَّ

Apabila seorang wanita menjadi imam, maka ia berdiri ditengah sejajar dengan mereka..

Ibnul Humam, Fathul Qadir, jilid 1 hal. 353 | Nisa

Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi (w. 1101 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Syarh Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

أنه لا تصح إمامة المرأة سواء أمت رجالا أو نساء في فريضة أو نافلة

Seorang wanita tidak sah menjadi imam, baik jika makmumnya laki-laki ataupun perempuan, baik dalam shalat fardhu ataupun shalat sunnah..

Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi, Syarh Mukhtashar Khalil, jilid 2 hal. 22 | Nisa

Asy-Syirazi (w. 476 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

السُّنَّةُ أَنْ تَقِفَ إمَامَةُ النِّسَاءِ وَسْطَهُنَّ لِمَا رُوِيَ أَنَّ عَائِشَةَ وَأُمَّ سَلَمَةَ أَمَّتَا نِسَاءً فَقَامَتَا وَسْطَهُنَّ

Sunnah hukumnya bagi Wanita yang menjadi imam bagi wanita lainnya untuk berdiri di tengah-tengah mereka, sebagaimana Aisyah radiyallahuanha dan Ummu Salamah mengimami para wanita dan mereka berdiri sejajar dengan mereka.

Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, jilid 1 hal. 189 | Nisa

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Raudhatu Ath-Thalibin sebagai berikut :

وَالْمُسْتَحَبُّ أَنْ تَقِفَ إِمَامَتُهُنَّ وَسَطَهُنَّ، وَجَمَاعَتُهُنَّ فِي الْبُيُوتِ أَفْضَلُ

Disunnahkan bagi wanita yang mengimami wanita lainnya untuk berdiri sejajar dengan mereka dan posisinya di tengah, dan shalatnya lebih baik dilakukan dirumah..

An-Nawawi, Raudhatu Ath-Thalibin, jilid 1 hal. 340 | Nisa

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib sebagai berikut :

وَتَقِفُ) نَدْبًا (إمَامَتُهُنَّ وَسْطَهُنَّ) لِمَا رَوَى الْبَيْهَقِيُّ بِإِسْنَادَيْنِ صَحِيحَيْنِ أَنَّ عَائِشَةَ وَأُمَّ سَلَمَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا - أَمَّتَا نِسَاءً فَقَامَتَا وَسْطَهُنَّ

Seorang wanita yang menjadi imam bagi wanita lainnya disunnahkah untuk berdiri di tengahnya sebagaimana riwayat Al-Baihaqi dalam dua sanadnya yang shahih bahwasanya Aisyah dan Ummu Salamah radiyallahuanhuma saat menjadi imam, keduanya berdiri sejajar dengan mereka (makmum)..

Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib, jilid 1 hal. 209 | Nisa

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Fathu Al-Wahhab bi Syarhi Minhaji Ath-Thullab sebagai berikut :

وَ " أَنْ تَقِفَ " إمَامَتُهُنَّ وَسْطُهُنَّ " بِسُكُونِ السِّينِ أَكْثَرَ مِنْ فَتْحِهَا كَمَا كَانَتْ عَائِشَةُ وَأُمُّ سَلَمَةَ تَفْعَلَانِ ذَلِكَ رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ بِإِسْنَادَيْنِ صَحِيحَيْنِ

Seorang wanita yang menjadi imam maka ia berdiri sejajar dengan makmum sebagaimana hadits Aisyah dan Ummu Salamah.

Zakaria Al-Anshari, Fathu Al-Wahhab bi Syarhi Minhaji Ath-Thullab, jilid 1 hal. 76 | Nisa

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

وَتَقِفُ إمَامَتُهُنَّ) نَدْبًا (وَسْطَهُنَّ) بِسُكُونِ السِّينِ لِثُبُوتِ ذَلِكَ عَنْ فِعْلِ عَائِشَةَ وَأُمِّ سَلَمَةَ - رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا -. رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ

Seorang wanita yang menjadi imam disunnahkan untuk berdiri ditengah sejajar dengan ma’mum berdasarkan hadits Aisyah dan Ummu Salamah radiyallhuanhuma yang diriwayatka oleh imam Al-Baihaqi dengan sanad shahih.

Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 1 hal. 493 | Nisa

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

وَإِنْ صَلَّتْ امْرَأَةٌ بِالنِّسَاءِ قَامَتْ مَعَهُنَّ فِي الصَّفِّ وَسَطًا

Dan jika seorang wanita shalat berjamaah dengan sesama wanita lainnya maka imamnya berdiri dalam shaf yang sama dan berada ditengah.

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 2 hal. 148 | Nisa

Al-Mardawi (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf sebagai berikut :

قَوْلُهُ {وَإِذَا صَلَّتْ امْرَأَةٌ بِنِسَاءٍ قَامَتْ وَسَطَهُنَّ} هَذَا مِمَّا لَا نِزَاعَ فِيهِ لَكِنْ لَوْ صَلَّتْ أَمَامَهُنَّ وَهُنَّ خَلْفَهَا، فَالصَّحِيحُ مِنْ الْمَذْهَبِ: أَنَّ الصَّلَاةَ تَصِحُّ

Seorang wanita jika menjadi imam bagi wanita lainnya maka ia berdiri ditengah sejajar dengan makmum, tapi apabila si imam wanita ini berdiri di depan para makmum wanitanya , maka shalatnya tetap sah..

Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf, jilid 2 hal. 299 | Nisa

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

وَأَمَّتْهُنَّ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ فَحَسَنٌ؛ لِأَنَّهُ لَمْ يَأْتِ نَصٌّ يَمْنَعُهُنَّ مِنْ ذَلِكَ

Jika wanita mengimami jamaah wanita lainnya hukumnya boleh, karena tidak ada nash yang melarangnya..

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 2 hal. 167 | Nisa

Hal itu didasarkan pada hadits Aisyah berikut ini: Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ: أَنَّهَا أَمَّتْ نِسَاءً فِي الْفَرِيضَةِ فِي الْمَغْرِبِ، وَقَامَتْ وَسَطَهُنَّ، وَجَهَرَتْ بِالْقِرَاءَة

Dari Aisyah ummul mukminin: bahwasanya dia mengimami para wanita dalam shalat maghrib, beliau (Aisyah ra) berdiri di tengah2 mereka dan mengeraskan bacaannya.

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 2 hal. 168 | Nisa

Setelah mengetahui pendapat masing-masing ulama tiap madzhab, dapat disimpulkan bahwa semua madzhab selain Maliki menyebutkan bahwa posisi wanita yang menjadi imam bagi jamaah wanita lainnya adalah di tengah dan sejajar dengan shaf. Berdasarkan hadits Aisyah dan Ummu Salamah radiyallahuanhuma.

Namun beberapa ulama dari madzhab Al-Hanafiyyah dan Al-Hanabilah juga membolehkan jika ia berdiri sedikit kedepan.

Hanya madzhab Maliki saja yang sama sekali tidak membolehkan wanita menjadi imam meskipun jamaahnya wanita, baik itu shalat fardhu ataupun sunnah.

Wallahu’alam.

Baca Lainnya :

Suci dari Haid di Waktu Ashar, Wajibkah Qadha' Dzuhur?
Fatimah Khairun Nisa | 11 September 2015, 14:35 | draft
Wanita Haidh Menghadiri Shalat Id
Fatimah Khairun Nisa | 11 September 2015, 14:36 | draft
Apakah Adzan & Iqamah Disyariatkan bagi Wanita
Achadiah | 25 May 2015, 14:37 | draft
Bolehkah Wanita Adzan Ditengah Jamaah Umum
Siti Maryam | 27 May 2015, 01:00 | published
Dalam Shalat Berjamaah, Dimanakah Posisi Imam Wanita?
Miratun Nisa | 14 May 2015, 19:00 | published
Hukum Wanita Shalat Berjamaah di Masjid
Ipung Multiningsih | 15 November 2015, 06:38 | published
Wanita Menjadi Imam bagi Jamaah Wanita, Bolehkah?
Isnawati | 11 September 2015, 14:38 | published