Bolehkah Wanita Adzan Ditengah Jamaah Umum

Wed 27 May 2015 01:00 | 0
Siti Maryam

Diantara syarat muadzin (orang yang mengumandangkan adzan) adalah laki-laki. Para ulama bersepakat bahwa perempuan tidak diperbolehkan mengumandangkan adzan, karena dengan mengumandangkan adzan berarti ia meninggikan suara, akibatnya ia akan mengundang fitnah bagi yang mendengarnya. Namun bagaimana jika ia sudah terlanjur adzan? Apakah adzannya sah atau perlu diulang? Apakah jika jama’ahnya wanita ia juga tidak boleh mengumandangkan adzan?

 

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

فيكره أذان المرأة باتفاق الروايات؛ لأنها إن رفعت صوتها فقد ارتكبت معصية، وإن خفضت فقد تركت سنة الجهر؛ ولأن أذان النساء لم يكن في السلف فكان من المحدثات وقد قال النبي - صلى الله عليه وسلم -: «كل محدثة بدعة» ، ولو أذنت للقوم أجزأهم حتى لا تعاد لحصول المقصود وهو: الإعلام

Adzan seorang wanita hukumnya makruh,karena dengan meninggikan suaranya dia telah berbuat maksiat, dan jika mengecilkan suaranya maka dia telah meninggalkan sunah adzan. Selain itu, adzannya seorang wanita tidak ada contoh dari para salaf, dan itu termasuk dari bid'ah. nabi SAW telah bersabda: (setiap hal baru yang diada-adakan adalah bid'ah) . Kalaupun dia telah terlanjur mengumandangkan adzan, maka hal tersebut diperbolehkan dan tidak perlu diulangi. karena telah tercapainya maksud dari adzan itu sendiri yaitu al-'ilam(mengumumkan masuknya waktu shalat). .

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 1 hal. 150 | Siska

Al-Qarafi (w. 684 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Adz-Dzakhirah sebagai berikut :

ففي الجواهر يشترط أن يكون مسلما عاقلا مميزا ذكرا بالغا عدلا عارفا بالمواقيت صيتا حسن الصوت فلا يعتد بأذان كافر أو مجنون أو سكران أو مختبط أو امرأة

Sifat-sifat yang harus dimiliki seorang muadzin adalah : Muslim, berakal, laki-laki, baligh, adil, mengetahui waktu-waktu shalat, bersuara bagus. Maka dari itu, adzannya orang kafir tidak dianggap sah, begitu pula orang gila, orang mabuk, kesurupan dan adzan wanita .

Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 2 hal. 64 | Fatimah

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

لا يصح أذان المرأة للرجال لما ذكره المصنف هذا هو المذهب

tidak sah adzannya wanita didepan laki-laki sebagaimana disebutkan penulis, dan ini adalah pendapat madzhab kami. .

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 3 hal. 100 | Nisa

Al-Mardawi (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf sebagai berikut :

لا يصح أذان المرأة للرجال لما ذكره المصنف هذا هو المذهب

tidak sah adzannya wanita didepan laki-laki sebagaimana disebutkan penulis, dan ini adalah pendapat madzhab kami. .

Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf, jilid 1 hal. 406 | Azizah

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

مسألة: ولا أذان على النساء ولا إقامة؛ فإن أذن، وأقمن فحسن. رهان ذلك -: أن أمر رسول الله - صلى الله عليه وسلم - بالأذان إنما هو لمن افترض عليهم رسول الله - صلى الله عليه وسلم - الصلاة في جماعة، بقوله - عليه السلام -: «فليؤذن لكم أحدكم وليؤمكم أكبركم» وليس النساء ممن أمرن بذلك، فإذا هو قد صح فالأذان ذكر الله تعالى، والإقامة كذلك؛ فهما في وقتهما فعل حسن.

Seorang wanita tidak diperbolehkan adzan dan iqamat, jika sudah terlanjur adzan maka tidak apa-apa karena ia termasuk pekerjaan yang baik (hasan). Adapun sebab pelarangannya bahwasanya rasulullah hanya menyuruh adzan kepada orang yang diwajibkan shalat jama’ah, yaitu laki-laki sebagaimana sabda beliau: ”Hendaknya ada diantara kalian yang mengumandangkan adzan, dan hendaknya yang menjadi imam adalah yang paling lebih tua usianya.” Dan yang dimaksud rasulullah dalam hadits diatas adalah kaum laki-laki bukan perempuan. Adapun jika sudah terlanjur adzan ataupun iqamat maka tidak apa-apa karena keduanya adalah dzikrullah, yang merupakan pekerjaan yang hasan (baik) .

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 2 hal. 169 | Zuria

Baca Lainnya :

Suci dari Haid di Waktu Ashar, Wajibkah Qadha' Dzuhur?
Fatimah Khairun Nisa | 11 September 2015, 14:35 | draft
Wanita Haidh Menghadiri Shalat Id
Fatimah Khairun Nisa | 11 September 2015, 14:36 | draft
Apakah Adzan & Iqamah Disyariatkan bagi Wanita
Achadiah | 25 May 2015, 14:37 | draft
Bolehkah Wanita Adzan Ditengah Jamaah Umum
Siti Maryam | 27 May 2015, 01:00 | published
Dalam Shalat Berjamaah, Dimanakah Posisi Imam Wanita?
Miratun Nisa | 14 May 2015, 19:00 | published
Hukum Wanita Shalat Berjamaah di Masjid
Ipung Multiningsih | 15 November 2015, 06:38 | published
Wanita Menjadi Imam bagi Jamaah Wanita, Bolehkah?
Isnawati | 11 September 2015, 14:38 | published