Rukun Khutbah Jumat Versi Lima Mazhab

Sun 4 October 2015 07:25 | 0
Muhammad Syarif Hidayatullah

 

Ibnu Abdin (w. 1252 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar sebagai berikut :

قَبْلَ الْخُطْبَةِ الْأُولَى بِالتَّعَوُّذِ سِرًّا ثُمَّ بِحَمْدِ اللَّهِ تَعَالَى وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ وَالشَّهَادَتَيْنِ وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ وَالْعِظَةِ وَالتَّذْكِيرِ وَالْقِرَاءَةِ . وَالثَّانِيَةُ كَالْأُولَى إلَّا أَنَّهُ يَدْعُو لِلْمُسْلِمِينَ

Hendaklah berta’awwudz terlebih dahulu dengan suara pelan sebelum (memulai) khutbah pertama, kemudian bersyukur kepada Alloh swt dan memujinya, lalu membacakan dua kalimat syahadat, sholawat kepada nabi saw, menasehati, memperingatkan (adzab) dan membacakan (sebagian dari ayat qur’an). Adapun khutbah kedua isinya sama dengan khutbah pertama, hanya saja ditambah dengan mendo’akan kaum muslimin .

Ibnu Abdin, Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar, jilid 2 hal. 149 | Aqil

Ibnu Rusyd Al-Hafid (w. 595 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid sebagai berikut :

أَقَلُّ مَا يَنْطَلِقُ عليه اسْمُ خُطْبَةٍ فِي كَلَامِ الْعَرَبِ مِنَ الْكَلَامِ الْمُؤَلَّفِ الْمبْدوء بِحَمْدِ اللَّهِ.

Ukuran minimal yang dapat disebut sebagai khutbah dalam istilah arab berdasarkan perkataan Ibnu rusyd adalah apa yang dimulai dengan tahmid (alhamdulillah).

Ibnu Rusyd Al-Hafid, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, jilid 1 hal. 171 | Amrozi

Al-Hathab Ar-Ru'aini (w. 954 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

جَزَمَ ابْنُ الْعَرَبِيِّ أَنَّ أَقَلَّهَا حَمْدُ اللَّهِ وَالصَّلَاةُ عَلَى نَبِيِّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَتَحْذِيرٌ وَتَبْشِيرٌ وَيَقْرَأُ شَيْئًا مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ قَالَ وَيَقْرَأُ فِي خُطْبَتِهِ عِنْدَنَا

Ibnu arobi mewajibkan bahwa standar minimal khutbah yaitu memuji Alloh swt., bershalawat kepada nabi saw., peringatan (adzab), kabar gembira, dan membaca beberapa ayat qur’an. Dan begitu pula menurut pendapat kami (membaca beberapa ayat qur’an)..

Al-Hathab Ar-Ru'aini, Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil, jilid 2 hal. 165 | Ajib

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

وفرضها أربعة أشياء: ان يحمد الله تعالي و أن يصلي على النبي والوصية بتقوى الله وأن يقرأ آية من القرآن والدعاء للمؤمنين

Fardhu (rukun) khutbah ada 4 macam: memuji Alloh swt., bershalawat kepada nabi saw., wasiat agar senantiasa bertaqwa kepada Alloh, dan membaca beberapa ayat qur’an. Dan berdo’a untuk orang-orang mukmin..

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 4 hal. 516 | Syarif

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib sebagai berikut :

أَرْكَانِ الْخُطْبَةِ بِأَنْ يَبْدَأَ بِالْحَمْدِ ثُمَّ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ ثُمَّ الْوَصِيَّةِ ثُمَّ الْقِرَاءَةِ ثُمَّ الدُّعَاءِ

Rukun khutbah dimulai dengan tahmid, kemudian beshalawat kepada nabi saw., wasiat (taqwa), membaca (beberapa ayat al-qur’an), dan do’a..

Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib, jilid 1 hal. 259 | Imam

Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Minhaj Al-Qawim sebagai berikut :

وفروضهما خمسة: حمد الله تعالى، والصلاة على رسول الله والوصية بالتقوى، وتجب هذه الثلاثة في الخطبتين. وقراءة آية مفهمة في إحداهما والدعاء للمؤمنين في الثانية

Rukun dalam 2 khutbah ada 5 macam yaitu: memuji Alloh swt., bershalawat kepada rasululloh saw., wasiat agar senantiasa bertaqwa kepada Alloh. 3 rukun ini hukumnya wajib ada dalam kedua khutbah. Lalu membaca beberapa ayat qur’an yang bisa difahami pada salah satu khutbahnya dan berdoa untuk orang-orang mukmin pada khutbah kedua..

Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhaj Al-Qawim , jilid 1 hal. 176 | Amrozi

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

وَأَرْكَانُهُمَا خَمْسَةٌ: حَمْدُ اللَّهِ تَعَالَى، وَالصَّلَاةُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وَلَفْظُهُمَا مُتَعَيِّنٌ، وَالْوَصِيَّةُ بِالتَّقْوَى، وَلَا يَتَعَيَّنُ لَفْظُهَا عَلَى الصَّحِيحِ، وَهَذِهِ الثَّلَاثَةُ أَرْكَانٌ فِي الْخُطْبَتَيْنِ. (وَالرَّابِعُ قِرَاءَةُ آيَةٍ) لِلِاتِّبَاعِ رَوَاهُ الشَّيْخَانِ سَوَاءٌ أَكَانَتْ وَعْدًا لَهُمْ أَمْ وَعِيدًا أَمْ حُكْمًا أَمْ قِصَّةً.

Rukun khutbah ada 5 yaitu: memuji Alloh swt., bershalawat kepada rasululloh saw., yang mana keduanya (memuji alloh dan bershalawat kepada rasululloh) menggunakan lafadz tertentu, lalu wasiat agar senantiasa bertaqwa kepada Alloh yang mana lafadznya tidak ditentukan. 3 rukun ini merupakan rukun dalam dua khutbah. Lalu (rukun yang ke empat membaca beberapa ayat qur’an), Baik yang berkaitan dengan ancaman, janji, hukum atau kisah..

Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 1 hal. 549 | Syarif

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

ويحتمل أن لا يجب شيء سوى حمد الله والموعظة؛ لأن ذلك يسمى خطبة. ولا يجب أن يخطب على صفة خطبة النبي بالاتفاق

Tidak ada sesuatupun yang wajib (disampaikan dalam khutbah) selain memuji Alloh dan nasihat, karena hal itu (sudah) disebut khutbah. Dan ulama sepakat bahwa tidak wajib berkhutbah seperti sifat khutbahnya nabi saw..

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 2 hal. 226 | Imam

Al-Mardawi (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf sebagai berikut :

لَوْ قَرَأَ مَا يَتَضَمَّنُ الْحَمْدَ وَالْمَوْعِظَةَ، ثُمَّ صَلَّى عَلَى النَّبِيِّ : كَفَى عَلَى الصَّحِيحِ

Jika (khatib) membacakan dalam isi khutbahnya dengan tahmid dan nasihat kemudian bershalawat untuk nabi saw., maka hal itu sudah cukup.

Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf, jilid 2 hal. 389 | Syarif

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

وَمَا خَطَبَ بِهِ مِمَّا يَقَعُ عَلَيْهِ اسْمُ خُطْبَةٍ أَجْزَأَهُ

Apa yang (di sampaikan) dalam khutbah berdasarkan definisi Bahasa (tidak seperti sifat khutbahnya nabi saw.) maka hal itu boleh.

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 3 hal. 262 | Faisal

qqq

Baca Lainnya :

Adakah Masyru'iyah Shalat Qabliyah Jumat?
Muhammad Ajib Asy-Syafi'i, Lc | 7 September 2015, 04:13 | published
Adzan Shalat Jumat, Sekali atau Dua Kali?
Imamuddin Mukhtar | 9 September 2015, 03:21 | draft
Bolehkah Menjamak Shalat Jumat dengan Shalat Ashar?
Muhamad Amrozi | 10 September 2015, 04:10 | published
Berapakah Jumlah Minimal Jamaah Shalat Jumat?
Muhammad Aqil Haidar | 12 September 2015, 03:21 | published
Apakah Shalat Jumat Harus Dilaksanakan di Masjid?
Faisal Reza Amaradja | 11 September 2015, 19:25 | draft
Apakah Khatib Harus Menjadi Imam ?
Tajun Nashr, Lc | 8 September 2015, 16:39 | published
Hari Raya Jatuh pada Hari Jum'at, Apakah Tetap Wajib Shalat Jum'at?
Tajun Nashr, Lc | 8 September 2015, 06:08 | published
Rukun Khutbah Jumat Versi Lima Mazhab
Muhammad Syarif Hidayatullah | 4 October 2015, 07:25 | published
Kapan Waktu Yang Dibolehkan Untuk Mulai Shalat Jumat
Tajun Nashr, Lc | 11 September 2015, 14:16 | published
Haruskah Khutbah Jumat Dengan Bahasa Arab?
Muhamad Amrozi | 23 September 2015, 08:36 | draft
Haruskah Mendapatkan Satu Rakaat Bersama Imam?
Imamuddin Mukhtar | 7 September 2015, 18:02 | draft
Haruskah Khutbah Jumat Dua Kali?
Muhammad Ajib Asy-Syafi'i, Lc | 11 September 2015, 14:15 | draft