Bayi Lahir Dalam Keadaan Wafat, Haruskah Dishalati?

Sun 11 October 2015 14:18 | 0
Muhammad Syarif Hidayatullah

 

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

وَلَا يُصَلَّى عَلَى مَنْ وُجِدَ مَيِّتًا، وَإِنْ مَاتَ فِي حَالِ وِلَادَتِهِ، فَإِنْ كَانَ خَرَجَ أَكْثَرُهُ صُلِّيَ عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ أَقَلَّهُ لَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِ اعْتِبَارًا لِلْأَغْلَبِ

Bayi yang dilahirkan dalam keadaan sudah meninggal maka tidak perlu dishalati, walaupun meninggal ketika proses kelahirannya.

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 1 hal. 311 | Ajib

Al-'Aini (w. 855 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Binayah Syarah Al-Hidayah sebagai berikut :

ومن استهل بعد الولادة سمي وغسل وصلي عليه

Barangsiapa yang (meninggal) dan sempat menunjukan tanda kehidupan setelah kelahiran maka hendaknya diberi nama, dimandikan dan dishalati..

Al-'Aini, Al-Binayah Syarah Al-Hidayah , jilid 3 hal. 232 | Aqil

Al-Qadhi Zaadah (w. 1087 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Majma’ Al-Anhur fii Syarhi Multaqa Al-Abhur sebagai berikut :

وَمَنْ اسْتَهَلَّ وَهُوَ أَنْ يُوجَدَ مِنْ الصَّبِيِّ مَا يَدُلُّ عَلَى حَيَاتِهِ مِنْ رَفْعِ صَوْتٍ أَوْ حَرَكَةِ عُضْوٍ بَعْدَ الْوِلَادَةِ غُسِّلَ وَسُمِّيَ وَصُلِّيَ عَلَيْهِ

Barangsiapa yang istahal yaitu mendapati anak yang telah menunjukan tanda kehidupannya dengan cara mengeraskan suara atau menggerakan anggota badannya pasca kelahiran, maka hendaknya ia dimandikan, diberi nama dan dishalati..

Al-Qadhi Zaadah, Majma’ Al-Anhur fii Syarhi Multaqa Al-Abhur , jilid 1 hal. 185 | Aqil

Ibnu Abdin (w. 1252 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar sebagai berikut :

وَمَنْ وُلِدَ فَمَاتَ يُغَسَّلُ وَيُصَلَّى عَلَيْهِ

Barangsiapa yang dilahirkan lalu langsung meninggal maka ia berhak dimandikan dan dishalati.

Ibnu Abdin, Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar, jilid 2 hal. 227 | Aqil

Al-Qarafi (w. 684 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Adz-Dzakhirah sebagai berikut :

لَا يُصَلَّى عَلَى الصَّبِيِّ وَلَا يُغَسَّلُ وَلَا يُحَنَّطُ حَتَّى يَسْتَهِلَّ صَارِخًا

Bayi tidak perlu dishalati, dimandikan, dan tidak juga di balsem sampai ia menunjukan tanda-tanda kehidupan dengan jelas.

Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 2 hal. 469 | Amrozi

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

أما الصبي فمذهبنا ومذهب جمهور السلف والخلف وجوب الصلاة واحتج أصحابنا بعموم النصوص الواردة بالأمر بالصلاة على المسلمين

Adapun anak kecil, maka dalam madzhab kita, mayoritas ulama terdahulu dan sekarang berpendapat wajib menyalatinya (jika ia meninggal). Dalilnya adalah ke-umuman nash yang memerintahkan untuk menshalati kaum muslimin (yang meninggal).

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 5 hal. 257 | Imam

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Raudhatu Ath-Thalibin sebagai berikut :

السَّقْطُ لَهُ حَالَانِ. أَحَدُهُمَا: أَنْ يَسْتَهِلَّ أَوْ يَبْكِيَ ثُمَّ يَمُوتُ، فَهُوَ كَالْكَبِيرِ. الثَّانِي: أَنْ لَا تُتَيَقَّنَ حَيَّاتُهُ بِاسْتِهْلَالٍ وَلَا غَيْرِهِ، إِنْ بَلَغَ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ، صُلِّيَ عَلَيْهِ فِي الْقَدِيمِ، وَلَمْ يُصَلَّ فِي الْجَدِيدِ

Yang disebut assaqtu itu ada 2 keadaan: 1) Bayi itu menunjukan tanda kehidupan atau menangis kemudian meninggal, maka dia seperti orang dewasa (harus dishalatkan). 2) Tidak yakin apakah bayi itu telah menunjukan tanda kehidupannya atau tidak. Jika sudah 4 bulan (batasan ditiupkannya ruh) maka ia berhak dishalatkan menurut qoul qodim dan tidak perlu dishalatkan menurut qoul jadiid .

An-Nawawi, Raudhatu Ath-Thalibin, jilid 2 hal. 117 | Syarif

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib sebagai berikut :

السِّقْطُ إنْ اسْتَهَلّ َكَالْكَبِيرِ فَيُغَسَّلُ وَيُكَفَّنُ وَيُصَلَّى عَلَيْهِ وَيُدْفَنُ

Assiqtu jika telah menunjukan tanda kehidupan maka ia sama seperti orang dewasa (dimandikan, dikafani, dishalatkan dan dikubur)..

Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib, jilid 1 hal. 313 | Amrozi

Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Minhaj Al-Qawim sebagai berikut :

ولا يصلى على السقط أي تحرم الصلاة عليه إلا إذا ظهرت أمارات الحياة بصياح أو غيره

Haram menshalati assiqtu (bayi lahir dalam keadaan sudah meninggal) kecuali jika sudah terlihat jelas tanda-tanda kehidupannya dengan suara teriakan atau selainnya.

Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhaj Al-Qawim , jilid 1 hal. 214 | Syarif

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

السِّقْطُ هُوَ الَّذِي لَمْ يَبْلُغْ تَمَامَ أَشْهُرِهِ، أَمَّا مَنْ بَلَغَهَا فَيُصَلَّى عَلَيْهِ مُطْلَقًا كَمَا أَفْتَى بِهِ شَيْخِي وَفَعَلَهُ.

Assiqthu adalah orang yang belum sempurna umur kandungannya, adapun jika umur kadungannya sudah cukup umur maka ia berhak dishalatkan sebagaimana yang sudah difatwakan guruku dan telah dilakukannya.

Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 2 hal. 33 | Imam

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

السقط إذا ولد لأكثر من أربعة أشهر، غسل، وصلي عليه.

Assiqtu apabila dilahirkan (dengan usia kandungan) lebih dari 4 bulan maka ia berhak dimandikan dan dishalatkan..

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 2 hal. 389 | Syarif

Al-Mardawi (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf sebagai berikut :

وَإِذَا وُلِدَ السِّقْطُ لِأَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ غُسِّلَ وَصُلِّيَ عَلَيْهِ أَنَّهُ لَوْ وُلِدَ لِدُونِ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ: أَنَّهُ لَا يُغَسَّلُ وَلَا يُصَلَّى عَلَيْه

Apabila assiqthu dilahirkan (dengan usia kandungan) lebih dari 4 bulan maka ia berhak di mandikan dan dishalatkan. Kalau belum sampai 4 bulan maka ia tidak berhak dimandikan dan tidak juga dishalatkan..

Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf, jilid 2 hal. 504 | Faisal

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

قال ابن حزم في المحلى: يستحب أن يصلى عليه استهل أو لم يستهل

Ibnu hazm berkata dalam kitab Al-Muhalla: hukum menshalati bayi yang meninggal adalah mustahab. Baik bayi tersebut telah menunjukan tanda kehidupannya ataupun belum..

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 3 hal. 385 | Faisal

Baca Lainnya :

Haruskah Shalat Jenazah Dilakukan Dengan Berjamaah?
Tajun Nashr, Lc | 10 September 2015, 09:32 |
Hukum Shalat Jenazah Atas Mayit yang Fasik
Muhammad Ajib Asy-Syafi'i, Lc | 11 September 2015, 14:09 | draft
Bayi Lahir Dalam Keadaan Wafat, Haruskah Dishalati?
Muhammad Syarif Hidayatullah | 11 October 2015, 14:18 | published
Mati Bunuh Diri, Dishalatkan atau Tidak?
Imamuddin Mukhtar | 11 September 2015, 14:19 | draft
Mayat Ahli Bid'ah, Dishalatkan Atau Tidak?
Muhamad Amrozi | 11 September 2015, 14:19 | draft
Hukum Menshalati Jenazah yang Telah Dikuburkan?
Muhammad Aqil Haidar | 16 November 2015, 14:20 | draft