|


 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

والتعوذ عند افتتاح الصلاة خاصة إلا على قول بن سيرين رحمه الله فإنه يقول يتعوذ في كل ركعة كما يقرأ، وهذا فاسد. فإن الصلاة واحدة فكما لا يؤتي لها إلا بتحريمه واحدة فكذا التعوذ والله أعلم

Waktu membaca ta’awwudz hanya dikhususkan ketika memulai shalat (rakaat pertama), kecuali pendapat Ibnu Sirin rahimahullah yang menyatakan bahwa membaca ta’awwudz dilakukan disetiap raka’at sebagaimana membaca Al-Quran. Dan pendapat ini adalah pendapat yang tidak benar karena shalat itu satu sebagaimana tidak menunaikannya melainkan dengan satu kali takbiratul ihram maka begitupula dengan membaca ta’awwudz. Wallahu ‘alam. .

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 1 hal. 23 | Ajib

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

فالتعوذ سنة في الصلاة عند عامة العلماء........ وأما وقت التعوذ فما بعد الفراغ من التسبيح قبل القراءة عند عامة العلماء….. وينبغي أن لا يجهر بالتعوذ لأن الجهر بالتعوذ لم ينقل عن النبي

Membaca ta’awwudz hukumnya sunah menurut mayoritas ulama….. Adapun waktu membaca ta’awwudz adalah ketika selesai dari membaca tasbih dan sebelum membaca al-fatihah menurut mayoritas ulama… hendaknya agar tidak mengeraskan suara ketika membaca ta’awwudz dikarenakan hal itu tidak pernah diriwayatkan dari Nabi S.A.W .

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 1 hal. 202 | Aqil

Al-Qarafi (w. 684 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Adz-Dzakhirah sebagai berikut :

ولا يتعوذ أحد في المكتوبة ويجوز في قيام رمضان

Tidak dibolehkan seseorang membaca ta’awudz di dalam shalat fardhu lima waktu dan boleh membacanya ketika shalat tarawih.

Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 2 hal. 181 | Amrozi

Ad-Dasuqi (w. 1230 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiyatu Ad-Dasuqi 'ala Asy-Syarah Al-Kabir sebagai berikut :

قوله ( وكرها بفرض ) أي للإمام وغيره سرا أو جهرا في الفاتحة أو غيرها

Kalimat “dimakruhkan (membaca ta’awwudz dan basmalah) di dalam shalat, baik itu untuk imam shalat ataupun selainnya, dengan suara pelan ataupun keras, pada saat membaca Al-Fatihah ataupun selainnya.

Ad-Dasuqi, Hasyiyatu Ad-Dasuqi 'ala Asy-Syarah Al-Kabir, jilid 1 hal. 251 | Faisal

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

والمذهب استحباب التعوذ في كل ركعة... وأما التعوذ فمشروع في أول القراءة والركعة الثانية وما بعدها فيها قراءة

Pendapat dalam mazhab syafi’i adalah sunahnya membaca ta’awwudz di setiap raka’at... adapun membaca ta’awwudz disyariatkan dibaca ketika memulai membaca Al-Quran (Al-Fatihah atau selainnya dalam shalat) begitupula diraka’at kedua dan seterusnya.

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 3 hal. 324 | Imam

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Raudhatu Ath-Thalibin sebagai berikut :

فصل يستحب بعد دعاء الاستفتاح أن يتعوذ فيقول أعوذ بالله من الشيطان الرجيم وقال بعض أصحابنا يقول أعوذ بالله السميع العليم من الشيطان الرجيم

Disunahkan membaca ta’awwudz setelah membaca doa iftitah dengan mengucapkan أعوذ بالله من الشيطان الرجيم atau أعوذ بالله السميع العليم من الشيطان الرجيم sebagaimana pendapat sebagian ashab kami.

An-Nawawi, Raudhatu Ath-Thalibin, jilid 1 hal. 240 | Syarif

Al-Malibari (w. 987 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyyah menuliskan dalam kitabnya Fathul Mu'in sebagai berikut :

يسن (تعوذ) ولو في صلاة الجنازة، سرا ولو في الجهرية

Disunahkan membaca ta’awwudz walaupun dishalat jenazah baik itu dengan suara pelan ataupun keras .

Al-Malibari, Fathul Mu'in, jilid 1 hal. 171 | Amrozi

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

أن الاستعاذة قبل القراءة في الصلاة سنة

Membaca ta’awwudz sebelum membaca al-fatihah dalam shalat adalah perkara yang disunahkan .

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 1 hal. 554 | Aqil

Al-Mardawi (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf sebagai berikut :

وسنن الأقوال اثنا عشر الاستفتاح والتعوذ".هذا المذهب وعليه جماهير الأصحاب وقطع به كثير منهم وعنه أنهما واجبان اختاره ابن بطة وعنه التعوذ وحده واجب وعنه يجب التعوذ في كل ركعة

Sunah-sunah awqal ada 12 yaitu membaca doa iftitah dan ta’awwudz. Inilah pendapat mazhab dalam mazhab hanbali dan mayoritas ulama hanabilah. Namun banyak juga dari mereka yang menyatakan bahwa keduanya (membaca basmalah dan ta’awwudz) wajib dibaca, Ibnu baththa mempunyai pendapat yang menyatakan wajibnya membaca ta’awwudz saja dan dibacanya di setiap raka’at.

Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf, jilid 2 hal. 86 | Syarif

Al-Buhuti (w. 1051 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Kasysyaf Al-Qinna' sebagai berikut :

فسنن الأقوال سبعة عشر الاستفتاح ، والتعوذ ، والبسملة ، والتأمين

Sunah Aqwal ada 17 yaitu membaca doa iftitah, ta’awwudz, basmalah, amin.

Al-Buhuti, Kasysyaf Al-Qinna', jilid 3 hal. 144 | Imam

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

وفرض على كل مصل أن يقول إذا قرأ أعوذ بالله من الشيطان الرجيم لا بد له في كل ركعة من ذلك

Wajib bagi setiap orang yang shalat agar membaca ta’awwudz sebelum membaca (Al-Fatihah ataupun surah dalam Al-Quran) di setiap raka’at shalat. Lafadz ta’awwudz : ) أعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 3 hal. 247 | Faisal

Baca Lainnya :