|


 

As-Sarakhsi (w. 483 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Mabsuth sebagai berikut :

ولكن أبو حنيفة ومحمد رحمهما الله قاسا الأذان للفجر بالأذان لسائر الصلوات بالمعنى الذي بينا وفي الأذان للفجر قبل الوقت إضرار بالناس لأنه وقت نومهم فيلتبس عليهم وذلك مكروه

Setelah menjelaskan terntang adzan sebelum waktunya maka disebutkan pendapat bahwa Imam Abu Hanifah dan muhammad (muridnya) yang berbeda dengan pendapat ulama yang lain , dimana beliau men-qiyaskan adzan antara fajar (Shubuh) dengan adzan untuk shalat-shalat lain sebagaimana telah kami jelaskan sebelumya , dikarenakan waktu tersebut merupakan waktu tidur (istirahat) maka ketika melakukan adzan sebelum masuknya waktu fajar itu bisa membawa mudharat bagi manusia , dan hal tersebut makruh hukumnya . .

As-Sarakhsi, Al-Mabsuth, jilid 1 hal. 135 | Imam

Az-Zaila'i (w. 743 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

ولنا قوله - عليه الصلاة والسلام - يا بلال لا تؤذن حتى يطلع الفجر أخرجه البيهقي قال في الإمام ورجال إسناده ثقات

Dan pendapat kami mengenai adzan shubuh maka sebagaimana Nabi Muhammad saw berkata kepada bilal : Wahai Bilal ! janganlah kamu adzan hingga terbit fajar ) diriwayatkan oleh Al-bayhaqi , dan sanad haditsnya semuanya tsiqoh . .

Az-Zaila'i, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 0 hal. 0 | Amrozi

Al-Qarafi (w. 684 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Adz-Dzakhirah sebagai berikut :

قال في الكتاب لا ينادى لصلاة قبل وقتها إلا الصبح

Disebutkan dalam alkitab (Kitab induk Malikiyah) bahwa tidak boleh adzan sebelum masuk waktunya kecuali shubuh . .

Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 2 hal. 69 | Aqil

Syihabuddin Al-Maliki (w. 732 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Irsyadu As-Saalik Ila Asyrafil Masalik sebagai berikut :

ويزيد التثويب في الصبح، ولا يجوز قبل الوقت إلا لها

Dan menambahkan At-Taswib (As-sholatu khairun minan naum 2x) dalam adzan shubuh , dan tidak boleh melakukan adzan sebelum waktunya kecuali dalam shalat shubuh . .

Syihabuddin Al-Maliki, Irsyadu As-Saalik Ila Asyrafil Masalik , jilid 1 hal. 13 | Imam

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

ولا يجوز الأذان لغير الصبح قبل دخول الوقت لأنه يراد للإعلام بالوقت فلا يجوز قبله واما الصبح فيجوز ان يؤذن له بعد نصف الليل لقول النبي صلى الله عليه وسلم " إن بلالا يؤذن بليل فكلوا واشربوا حتى يؤذن ابن أم مكتوم "

Dan tidak boleh melaksanakan adzan sebelum masuk waktunya kecuali shubuh, karena adzan itu untuk pemberitahuan akan masuknya waktu shalat maka tidak boleh sebelum masuk waktunya . Adapun shubuh maka boleh melakukan adzan setelah pertengahan malam sebagaimana sabda nabi : Sesungguhnya Bilal adzan pada malam hari , maka makanlah dan minumlah hingga Ibnu Ummi Maktum adzan pada shubuh . .

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 3 hal. 87 | Ajib

Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Minhaj Al-Qawim sebagai berikut :

وشرط صحة الأذان الوقت" لأنه للإعلام به فلا يصح قبله "إلا الصبح فيجوز بعد نصف الليل

Syarat sahnya adzan adalah dengan masuknya waktu, karena dimaksudkan sebagai pemberitahuan , maka tidak sah melakukan adzan sebelum masuk waktunya , kecuali shalat shubuh , yaitu diperbolehkan setelah pertengahan malam .

Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhaj Al-Qawim , jilid 1 hal. 78 | Faisal

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

الفصل الثاني، أنه يشرع الأذان للفجر قبل وقتها.

Bab kedua : Bahwasanya disyariatkan adzan sebelum waktu fajar (shubuh) . .

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 1 hal. 297 | Syarif

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

ولا يجوز أن يؤذن لصلاة قبل دخول وقتها إلا صلاة الصبح فقط، فإنه يجوز أن يؤذن لها قبل طلوع الفجر الثاني بمقدار ما يتم المؤذن أذانه وينزل من المنار أو من العلو ويصعد مؤذن آخر ويطلع الفجر قبل ابتداء الثاني في الأذان، ولا بد لها من أذان ثان بعد الفجر، ولا يجزئ الأذان الذي كان قبل الفجر؛ لأنه أذان سحور، لا أذان للصلاة.

Tidak boleh dilakukan adzan sebelum waktu shalat, selain shalat Shubuh saja. Untuk Shubuh boleh diadzankan dua kali, yang pertama sebelum terbit fajar, yang kedua setelah terbit fajar. Adzan yang kedua tidak boleh ditinggalkan, tidak boleh dicukupi dengan adzan yang pertama saja. Karena adzan yang pertama untuk sahur, yang kedua untuk shalat..

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 2 hal. 159 | Faisal

Baca Lainnya :