|


 

Al-Kasani (w. 587 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' sebagai berikut :

الدباغ للجلود النجسة، فالدباغ تطهير للجلود كلها إلا جلد الإنسان والخنزير

Terkait menyamak kulit binatang yang najis, maka menyamaknya dapat menyucikan kulitnya secara keseluruhan kecuali kulit manusia dan babi..

Al-Kasani, Badai' Ash-Shanai' fi Tartibi As-Syarai' , jilid 1 hal. 85 | Ajib

Ibnul Humam (w. 681 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Fathul Qadir sebagai berikut :

وكل إهاب دبغ فقد طهر وجازت الصلاة فيه والوضوء منه إلا جلد الخنزير والآدمي

Setiap jenis kulit jika disamak maka hukumnya menjadi suci dan boleh shalat diatasnya dan berwudhu dengannya kecuali kulit babi dan manusia..

Ibnul Humam, Fathul Qadir, jilid 1 hal. 92 | Aqil

Az-Zaila'i (w. 743 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ وَكُلُّ إهَابٍ دُبِغَ فَقَدْ طَهُرَ إلَّا جِلْدَ الْخِنْزِيرِ وَالْآدَمِيِّ

Imam Ra. berkata: “dan setiap jenis kulit yang disamak maka menjadi suci kecuali kulit babi dan manusia..

Az-Zaila'i, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 1 hal. 25 | Aqil

Al-'Aini (w. 855 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Binayah Syarah Al-Hidayah sebagai berikut :

وكل إهاب يقبل الدباغ إذا دبغ فقد طهر إلا جلد الآدمي والخنزير لا يطهر؛ لأنه لا يقبل الدباغ.

Semua jenis kulit yang bisa disamak maka jika disamak hukumnya menjadi suci kecuali kulit manusia dan babi yang tidak bisa disucikan, karena kulit tersebut memang tidak bisa disamak. .

Al-'Aini, Al-Binayah Syarah Al-Hidayah , jilid 1 hal. 409 | Ajib

Ibnu Nujaim (w. 970 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Bahru Ar-Raiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

كُلَّ إهَابٍ دُبِغَ جَازَ اسْتِعْمَالُهُ شَرْعًا إلَّا جِلْدَ الْخِنْزِيرِ لِنَجَاسَةِ عَيْنِهِ وَجِلْدَ الْآدَمِيِّ لِكَرَامَتِهِ

Setiap kulit yang disamak boleh digunakan secara syar’i kecuali kulit babi karena najis dzatnya dan kulit manusia karena kemuliaannya..

Ibnu Nujaim, Al-Bahru Ar-Raiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 1 hal. 105 | Ajib

Al-Qadhi Zaadah (w. 1087 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Majma’ Al-Anhur fii Syarhi Multaqa Al-Abhur sebagai berikut :

وكل إهاب وهو الجلد الذي لم يدبغ ويتناول ذلك بعمومه ما يؤكل وما لا يؤكل دبغ فقد طهر.إلا جلد الآدمي لكرامته والخنزير لنجاسة عينه، وكذا لا يطهر جلد الحية والفأرة واختلف في جلد الكلب والصحيح أنه يطهر

Semua jenis ihaab yaitu kulit yang belum disamak dan keumuman teksnya mencakup semua jenis (makhluk) yang dapat dimakan dan yang tidak dapat dimakan jika disamak maka hukumnya menjadi suci, kecuali kulit manusia karena kemualiaannya dan babi karena Dzatnya yang najis. Begitu juga kulit ular dan tikus hukumnya tetap tidak suci, adapun terkait kulit anjing ulama berbeda pendapat, akan tetapi (hukumnya) yang shohih adalah bisa menjadi suci..

Al-Qadhi Zaadah, Majma’ Al-Anhur fii Syarhi Multaqa Al-Abhur , jilid 1 hal. 32 | Amrozi

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah sebagai berikut :

وجلود الميتة نجسة وهي بعد الدباغ طاهرة

Kulit bangkai hukumnya najis, tapi jika sudah di samak menjadi suci..

Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah, jilid 1 hal. 440 | Imam

Al-Hathab Ar-Ru'aini (w. 954 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

(قُلْتُ) فِيمَا قَالَهُ نَظَرٌ؛ لِأَنَّهُ إنْ كَانَ الْمُرَادُ الْحُكْمَ بِنَجَاسَةٍ وَأَنَّهُ لَا يَطْهُرُ بِالدِّبَاغِ فَجُلُودُ الْمَيْتَاتِ كُلِّهَا نَجِسَةٌ وَلَوْ دُبِغَتْ، وَإِنْ كَانَ الْمُرَادُ التَّرْخِيصَ فِي الِاسْتِعْمَالِ فَقَدْ دَلَّ كَلَامُ ابْنِ حَزْمٍ عَلَى أَنَّهُ لَا يَحِلُّ اسْتِعْمَالُهُ بِاتِّفَاقٍ

Aku berpendapat, terkait perkara ini ada beberapa pandangan, jika yang dimaksud adalah hukum kenajisannya maka sungguh hukumnya tidak suci dengan cara disamak karena semua jenis kulit bangkai hukumnya najis walaupun disamak. Jika yang dimaksud adalah keringanan dalam menggunakannya maka sungguh perkataan Ibnu Hazm telah menunjukan bahwa hukumnya tidak halal untuk digunakan berdasarkan kesepakatan. .

Al-Hathab Ar-Ru'aini, Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil, jilid 1 hal. 101 | Amrozi

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

كل حيوان نجس بالموت طهر جلده بالدباغ وهو ما عدا الكلب والخنزير وما تولد منهما أو من أحدهما فلا يطهر جلدهما بالدباغ لأن الدباغ كالحياة ثم الحياة لا تدفع النجاسة عن الكلب والخنزير فكذلك الدباغ

Setiap hewan menjadi najis dengan kematiannya, tapi bisa jadi suci kulitnya dengan cara disamak asalkan selain anjing, babi dan apa yang terlahir dari keduanya atau salah satu dari keduanya..

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 1 hal. 214 | Syarif

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

كل حيوان نجس بالموت طهر جلده بالدباغ وهو ما عدا الكلب والخنزير وما تولد منهما أو من أحدهما فلا يطهر جلدهما بالدباغ لأن الدباغ كالحياة ثم الحياة لا تدفع النجاسة عن الكلب والخنزير فكذلك الدباغ

Setiap hewan menjadi najis dengan kematiannya, tapi bisa jadi suci kulitnya dengan cara disamak asalkan selain anjing, babi dan apa yang terlahir dari keduanya atau salah satu dari keduanya..

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 1 hal. 214 | Syarif

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Raudhatu Ath-Thalibin sebagai berikut :

أَنْ يُدْبَغَ جِلْدُ الْمَيْتَةِ، فَيَطْهُرُ بِالدِّبَاغِ مِنْ مَأْكُولِ اللَّحْمِ وَغَيْرِهِ، إِلَّا جِلْدَ كَلْبٍ، أَوْ خِنْزِيرٍ، وَفَرْعَهُمَا، فَإِنَّهُ لَا يَطْهُرُ قَطْعًا،

Hendaklah kulit bangkai disamak, maka kulit bangkai yang (ketika hidupnya) boleh dimakan ataupun tidak lalu disamak maka hukumnya menjadi suci. Kecuali kulit anjing, babi dan peranakannya, maka sesungguhnya hal tersebut tidak bisa di sucikan..

An-Nawawi, Raudhatu Ath-Thalibin, jilid 1 hal. 41 | Imam

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib sebagai berikut :

(يُطَهِّرُ) أَيْ الِانْدِبَاغُ جِلْدَ غَيْرِ كَلْبٍ، وَخِنْزِيرٍ، وَفَرْعِهِمَا

Penyamakan dapat menyucikan kulit selain kulit anjing, babi dan peranakan dari keduanya.

Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib, jilid 1 hal. 17 | Syarif

Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Minhaj Al-Qawim sebagai berikut :

الجلد المتنجس بالموت بأن لم يكن من نحو كلب و إن كان من غير المأكول يطهر بالدبغ.

Kulit binatang (menjadi) najis dengan kematiannya, walaupun asalnya termasuk binatang yang tidak boleh dimakan, tapi kulitnya bisa suci dengan cara menyamaknya selama bukan dari kulit anjing. .

Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhaj Al-Qawim , jilid 1 hal. 54 | Faisal

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

جِلْدٌ نَجُسَ بِالْمَوْتِ فَيَطْهُرُ بِدَبْغِهِ. وَيَنْجُسُ بِالْمَوْتِ جِلْدُ نَحْوِ الْكَلْبِ فَإِنَّهُ لَا يَطْهُرُ بِالدِّبَاغِ

Kulit binatang menjadi najis dengan kematiannya, maka baru menjadi suci dengan menyamaknya. Dan kulit binatang (tetap) najis dengan kematiannya seperti anjing, maka sesungguhnya anjing tidak suci walau dengan menyamaknya. .

Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 1 hal. 237 | Imam

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

ولنا ما روى عبد الله بن عكيم، أن النبي صلى الله عليه وسلم كتب إلى جهينة إني كنت رخصت لكم في جلود الميتة، فإذا جاءكم كتابي هذا فلا تنتفعوا من الميتة بإهاب. رواه أبو داود في سننه

Menurut kita, berdasarkan apa yang diriwayatkan Abdulloh bin ‘Akim bahwasanya nabi saw. mewajibkan kepada kaum Juhainah: “sesungguhnya dulu aku meringankan kalian dalam menyamak bangkai, jika kewajiban ini sudah datang kepada kalian maka jangan lagi memanfaatkan bangkai dengan menyamaknya. (HR. Abu Dawud dalam kitab Sunannya)..

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 1 hal. 49 | Syarif

Ibnu Taimiyah (w. 728 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Majmu' Fatawa sebagai berikut :

أَمَّا طَهَارَةُ جُلُودِ الْمَيْتَةِ بِالدِّبَاغِ فَفِيهَا قَوْلَانِ مَشْهُورَانِ لِلْعُلَمَاءِ فِي الْجُمْلَةِ: أَحَدُهُمَا: أَنَّهَا تَطْهُرُ بِالدِّبَاغِ. وَهُوَ قَوْلُ أَكْثَرِ الْعُلَمَاءِ كَأَبِي حَنِيفَةَ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَد فِي إحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ. وَالثَّانِي: لَا تَطْهُرُ. وَهُوَ الْمَشْهُورُ فِي مَذْهَبِ مَالِكٍ

Adapun sucinya kulit bangkai dengan cara disamak, secara umum terdapat 2 pendapat ulama: 1) Kulit bangkai tersebut suci dengan cara disamak, ini pendapat mayoritas ulama seperti Imam Abu Hanifah, As-Syafi’I dan Ahmad dala salah satu riwayat. 2) Tidak suci, ini masyhur dalam madzhab Malikiyyah. .

Ibnu Taimiyah, Majmu' Fatawa, jilid 21 hal. 90 | Imam

Al-Mardawi (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf sebagai berikut :

وَلَا يَطْهُرُ جِلْدُ الْمَيْتَةِ يَعْنِي النَّجِسَةَ بِالدِّبَاغِ

Kulit bangkai yang disamak hukumnya tetap tidak suci. .

Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf, jilid 1 hal. 86 | Faisal

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

مسألة: وتطهير جلد الميتة، أي ميتة كانت ولو أنها جلد خنزير أو كلب أو سبع أو غير ذلك فإنه بالدباغ ، حاشا جلد الإنسان، فإنه لا يحل أن يدبغ ولا أن يسلخ.

Menyucikan kulit bangkai (walaupun kulit babi, anjing, binatang buas atau yang lainnya) maka bisa suci dengan cara disamak. Kecuali kulit manusia, maka sesungguhnya tidak halal/suci dengan cara menyamak dan mengulitinya..

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 1 hal. 128 | Faisal

Baca Lainnya :