|


 

Ibnu Nujaim (w. 970 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Bahru Ar-Raiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

في المحيط: فإن فتح باب قصره وأذن للناس بالدخول: جاز ، ويكره ; لأنه لم يقض حق المسجد الجامع

Ketika seorang sultan/penguasa membukakan pintu istananya serta mengizinkan masyarakat untuk masuk (melaksanakan shalat jum’at), maka hukumnya boleh namun makruh. Karena si pemimpin tersebut tidak menunaikan hak masjid Jami’(shalat di dalamnya). .

Ibnu Nujaim, Al-Bahru Ar-Raiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 2 hal. 162 | Amrozi

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah sebagai berikut :

وللجمعة شروط هي فرائضها لا تتم إلا بها وهي: المصر، أو ما يشبهه من ديار الإقامة، والإمام، والخطبة، والجماعة، والوقت، واليوم والمسجد عند مالك أو مكانه إن عدم

Terdapat beberapa syarat untuk shalat jum’at, sebuah kefardhuan yang mana shalat jum’at itu tidak akan sempurna kecuali dengan adanya syarat-syarat tersebut yaitu: daerahnya kota atau yang semisalnya dari rumah-rumah pemukiman, imam, khutbah, jamaah jum’at, waktu, hari (jum’at) dan masjid menurut imam malik atau yang semisalnya apabila tidak ada (masjidnya)..

Ibnu Abdil Barr, Al-Kafi fi Fiqhi Ahli Al-Madinah, jilid 1 hal. 249 | Syarif

Al-Qarafi (w. 684 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Adz-Dzakhirah sebagai berikut :

الشرط الرابع المسجد قال صاحب المقدمات هو شرط في الوجوب والصحة على رأي من يشترط فيه البنيان وأما على رأي من لا يشترطه بل يكتفي بالفضاء إذا حبس وعين للصلاة وحكم له بالمسجد يكون شرطا في الصحة فقط ..... فبهذه القاعدة يستدل على وجوب المسجد والخطبة وسائر الفروض

Syarat yang k 4 yaitu masjid, menurut penulis kitab Al-Mukaddimat " masjid merupakan syarat wajib dan sahnya shalat jumat sesuai dengan pendapat yang mensyaratkan wajibnya didirikan shalat diatas sebuah bangunan. Adapun pendapat yang tidak mensyaratkannya maka cukuplah dengan shalat di ruang terbuka jika tertahan atau tidak bisa melaksakannya dimasjid yang ditentukan sebagai tempat shalat jumat. Dan dalam pendapat ini masjid hanya dimasukkan kedalam syarat sahnya shalat jumat saja..... Maka dengan kaidah ini sudah dapat menunjukkan kepada kewajiban adanya masjid, khutbah dan fardhu-fardhu yang lainnya. .

Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 2 hal. 335 | Faisal

An-Nawawi (w. 676 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

قال أصحابنا ولا يشترط إقامتها في مسجد ولكن تجوز في ساحة مكشوفة بشرط أن تكون داخلة في القرية أو البلدة معدودة من خطتها

para Ulama Syafi’iyyah berpendapat bahwa : (shalat jum’at) tidak syaratkan harus dilaksanakan di masjid akan tetapi boleh saja dilaksanakan di lapangan terbuka, asalkan masih di dalam perkampungan atau suatu wilayah tertentu..

An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 4 hal. 501 | Imam

Ar-Ramli (w. 1004 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah menuliskan dalam kitabnya Nihayatul Muhtaj sebagai berikut :

ولا يشترط لها مسجد، ولو انهدمت أو أحرقت وأقام أهلها على عمارتها ولو في غير مظال لم يقدح في صحة الجمعة

Dan masjid tidak dijadikan sebagai syarat dalam shalat jumat. Jika sebuah bangunan yang dipakai untuk shalat jumat hancur ataupun terbakar dan penduduk kota tersebut shalat di sekitar tiang-tiang bekas bangunan itu dengan tanpa atap yang menaungi mereka maka shalat jumatnya tetap sah..

Ar-Ramli, Nihayatul Muhtaj, jilid 2 hal. 229 | Faisal

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

فصل: ولا يشترط لصحة الجمعة إقامتها في البنيان، ويجوز إقامتها فيما قاربه من الصحراء

Shalat jum’at tidak disyaratkan harus dilaksanakan di suatu bangunan, bahkan boleh dilakukan di suatu tempat yang dekat dengan padang pasir.

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 2 hal. 246 | Aqil

Al-Mardawi (w. 885 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf sebagai berikut :

ويجوز إقامتها في الأبنية المتفرقة، إذا شملها اسم واحد وفيما قارب البنيان من الصحرا. وهو المذهب مطلقا وعليه أكثر الأصحاب. وقطع به كثير منهم. وقيل: لا يجوز إقامتها إلا في الجامع.

Boleh saja mendirikan shalat jumat di ruangan yang berbeda-beda namun secara umum masih berada dalam satu bangunan dan boleh juga shalat di bangunan yang dekat dengan padang pasir, inilah pendapat muthlak dalam mazhab dan juga pendapat yang dipilih oleh kebanyakan ulama madzhab Hanbali. Meski ada yang mengatakan bahwa shalat jum’at harus di al-Jami’..

Al-Mardawi, Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih minal Khilaf, jilid 2 hal. 378 | Faisal

Baca Lainnya :